Archive for the 'Kisah dan Renungan' Category

Bila Al Quran Bisa Bicara

March 14, 2008

Waktu engkau masih kanak-kanak, kau laksana Waktu engkau masih
kanak-kanak, kau laksana kawan sejatiku. Dengan wudu’ aku kau sentuh
dalam keadaan suci.

Aku kau pegang, kau junjung dan kau pelajari. Aku engkau baca dengan
suara lirih ataupun keras setiap hari

Setelah usai engkaupun selalu menciumku mesra.

Sekarang engkau telah dewasa…

Nampaknya kau sudah tak berminat lagi padaku… Apakah aku bacaan usang
yang tinggal sejarah…

Menurutmu barangkali aku bacaan yang tidak menambah pengetahuanmu
Atau menurutmu aku hanya untuk anak kecil yang belajar mengaji saja?

Sekarang aku engkau simpan rapi sekali hingga kadang engkau lupa dimana
menyimpannya.

Aku sudah engkau anggap hanya sebagai perhiasan rumahmu.

Kadang kala aku dijadikan mas kawin agar engkau dianggap bertaqwa.

Atau aku kau buat penangkal untuk menakuti hantu dan syetan.

Kini aku lebih banyak tersingkir, dibiarkan dalam kesendirian dalam kesepian.

Di atas lemari, di dalam laci, aku engkau pendamkan.

Dulu…pagi-pagi…surah-surah yang ada padaku engkau baca beberapa halaman.

Sore harinya aku kau baca beramai-ramai bersama temanmu di surau…..

Sekarang… pagi-pagi sambil minum kopi…engkau baca Koran pagi atau nonton berita TV.

Waktu senggang..engkau sempatkan membaca buku karangan manusia.

Sedangkan aku yang berisi ayat-ayat yang datang dari Allah Yang Maha Perkasa.

Engkau campakkan, engkau abaikan dan engkau lupakan…

Waktu berangkat kerjapun kadang engkau lupa baca pembuka surah-surahku (Basmalah).

Diperjalanan engkau lebih asyik menikmati musik duniawi.

Tidak ada kaset yang berisi ayat Allah yang terdapat padaku di laci mobilmu.

Sepanjang perjalanan radiomu selalu tertuju ke stasiun radio favoritmu.

Aku tahu kalau itu bukan Stasiun Radio yang senantiasa melantunkan ayatku.

Di meja kerjamu tidak ada aku untuk kau baca sebelum kau mulai kerja.

Di Komputermu pun kau putar musik favoritmu. Jarang sekali engkau putar ayat-ayatku melantun.

E-mail temanmu yang ada ayat-ayatkupun kadang kau abaikan.

Engkau terlalu sibuk dengan urusan duniamu.

Benarlah dugaanku bahwa engkau kini sudah benar-benar melupakanku.

Bila malam tiba engkau tahan nongkrong berjam-jam di depan TV.

Menonton pertandingan Liga Italia , musik atau Film dan Sinetron laga.

Di depan komputer berjam-jam engkau betah duduk.

Hanya sekedar membaca berita murahan dan gambar sampah.

Waktupun cepat berlalu…aku menjadi semakin kusam dalam lemari.

Mengumpul debu dilapisi abu dan mungkin dimakan kutu.

Seingatku hanya awal Ramadhan engkau membacaku kembali Itupun hanya beberapa lembar dariku.

Dengan suara dan lafadz yang tidak semerdu dulu.

Engkaupun kini terbata-bata dan kurang lancar lagi setiap membacaku.

Apakah Koran, TV, radio , komputer, dapat memberimu pertolongan ?

Bila engkau di kubur sendirian menunggu sampai kiamat tiba.

Engkau akan diperiksa oleh para malaikat suruhanNya.

Hanya dengan ayat-ayat Allah yang ada padaku engkau dapat selamat melaluinya.

Sekarang engkau begitu enteng membuang waktumu… Setiap saat berlalu…kuranglah jatah umurmu…

Dan akhirnya kubur sentiasa menunggu kedatanganmu.. Engkau bisa kembali kepada Tuhanmu sewaktu-waktu.

Apabila malaikat maut mengetuk pintu rumahmu.

Bila aku engkau baca selalu dan engkau hayati… Di kuburmu nanti….

Aku akan datang sebagai pemuda gagah nan tampan. Yang akan membantu engkau membela diri.

Bukan koran yang engkau baca yang akan membantumu.

Dari perjalanan di alam akhirat. Tapi Akulah “Qur’an” kitab sucimu.

Yang senantiasa setia menemani dan melindungimu.

Peganglah aku lagi . .. bacalah kembali aku setiap hari. Karena ayat-ayat yang ada padaku adalah ayat suci.

Yang berasal dari Allah, Tuhan Yang Maha Mengetahui. Yang disampaikan oleh Jibril kepada Muhammad Rasulullah.

Keluarkanlah segera aku dari lemari atau lacimu… Jangan lupa bawa kaset yang ada ayatku dalam laci mobilmu.

Letakkan aku selalu di depan meja kerjamu. Agar engkau senantiasa mengingat Tuhanmu.

Sentuhilah aku kembali… Baca dan pelajari lagi aku….

Setiap datangnya pagi dan sore hari. Seperti dulu….dulu sekali…

Waktu engkau masih kecil , lugu dan polos… Di surau kecil kampungmu yang damai.

Jangan aku engkau biarkan sendiri…. Dalam bisu dan sepi….

Mahabenar Allah, yang Mahaperkasa lagi. Mahabijaksana.

Semoga bermanfaat.

Wa Billahit-taufiq wal-hidayah

Wassalamualaikum wr.wb

“Utamakan SELAMAT dan SEHAT untuk duniamu, Utamakan SHOLAT dan ZAKAT
untuk akhiratmu”

From: Unknown (lupa sumber aslinya)

Bahagia

March 14, 2008

Manusia bahagia bila ia bisa membuka mata.
Untuk menyadari bahwa ia memiliki banyak hal yang berarti.

Manusia bisa bahagia bila ia mau membuka mata hati.
Untuk menyadari, betapa ia dicintai.

Manusia bisa bahagia, bila ia mau membuka diri.
Agar orang lain bisa mencintainya dengan tulus.

Manusia tidak bahagia karena tidak mau membuka hati,
berusaha meraih yang tidak dapat diraih,
memaksa untuk mendapatkan segala yang diinginkan,
tidak mau menerima dan mensyukuri yang ada.

Manusia buta, karena egois dan hanya memikirkan diri,
tidak sadar bahwa ia begitu dicintai,
tidak sadar bahwa saat ini, apa yang ada adalah baik, selalu berusaha
meraih lebih,
dan tidak mau sadar karena serakah.

Ada teman yang begitu mencintai,
namun tidak diindahkan,
karena memilih, menilai dan menghakimi sendiri.

Memilih teman dan mencari-cari,
padahal di depan mata ada teman yang sejati.

Telah memiliki segala yang terbaik, namun serakah,
ingin dirinya yang paling diperhatikan, paling disayang, selalu menjadi
pusat perhatian, selalu dinomorsatukan.

Padahal, semua manusia memiliki peranan,
hebat dan no.1 dalam satu hal,
belum tentu dalam hal lain,
dicintai oleh satu orang belum tentu oleh orang lain.

Kebahagiaan bersumber dari dalam diri sendiri,
jikalau berharap dari orang lain,
siaplah ditinggalkan,
siaplah dikhianati.

Kita akan bahagia bila bisa menerima diri apa adanya,
mencintai dan menghargai diri sendiri,
mau mencintai orang lain,
dan mau menerima orang lain.

Percayalah kepada Tuhan, dan bersyukurlah kepadanya,
bahwa kita selalu diberikan yang terbaik sesuai usaha kita,
tak perlu berkeras hati,
pasrahkan dirimu padaNYA….

Ia akan memberi kita di saat yang tepat apa yang kita butuhkan,
meskipun bukan hari ini, masih ada esok hari
karena yang terindah bagiNYA selalu datang tepat pada waktunya dan kita
tidak pernah duga.

Berusaha dan bahagialah karena kita dicintai begitu banyak orang
dan berusahalah menerima orang lain apa adanya

From: Unknown (lupa sumber aslinya)

Cinta dan perkwainan menurut Plato

March 14, 2008

Orang-orang bertanya padaku “Apa itu Cinta?”
Saya tak tahu jawabannya, jadi saya hanya bisa memberikan jawaban yang
saya kutip dari Plato.

Satu hari, Plato bertanya pada gurunya, “Apa itu cinta? Bagaimana saya
bisa menemukannya?

Gurunya menjawab, “Ada ladang gandum yang luas didepan sana. Berjalanlah
kamu dan tanpa boleh mundur kembali, kemudian ambillah satu saja ranting.
Jika kamu menemukan ranting yang kamu anggap paling menakjubkan, artinya
kamu telah menemukan cinta”

Platopun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan tangan
kosong, tanpa membawa apapun.

Gurunya bertanya, “mengapa kamu tidak membawa satupun ranting?”
Plato menjawab, “Aku hanya boleh membawa satu saja, dan saat berjalan
tidak boleh mundur kembali (berbalik)”

Sebenarnya aku telah menemukan yang paling menakjubkan, tapi aku tak
tahu apakah ada yang lebih menakjubkan lagi di depan sana, jadi tak
kuambil ranting tersebut. Saat kumelanjutkan berjalan lebih jauh lagi,
baru kusadari bahwasanya ranting-ranting yang kutemukan kemudian tak
sebagus ranting yang tadi, jadi tak kuambil sebatangpun pada akhirnya”

Gurunya kemudian menjawab ” Jadi ya itulah cinta”

Di hari yang lain, Plato bertanya lagi pada gurunya, “Apa itu perkawinan?
bagaimana saya bisa menemukannya?

Gurunyapun menjawab “Ada hutan yang subur didepan saja. Berjalanlah tanpa
boleh mundur kembali (menoleh) dan kamu hanya boleh menebang satu pohon
saja.
Dan tebanglah jika kamu menemukan pohon yang paling tinggi, karena artinya
kamu telah menemukan apa itu perkawinan”

Platopun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan membawa pohon.
Pohon tersebut bukanlah pohon yang segar/ subur, dan tidak juga terlalu tinggi.
Pohon itu biasa-biasa saja.

Gurunya bertanya, “Mengapa kamu memotong pohon yang seperti itu?”

Platopun menjawab, “sebab berdasarkan pengalamanku sebelumnya, setelah
menjelajah hampir setengah hutan, ternyata aku kembali dengan tangan
kosong.

Jadi dikesempatan ini, aku lihat pohon ini, dan kurasa tidaklah buruk-buruk
amat, jadi kuputuskan untuk menebangnya dan membawanya kesini. Aku tidak
mau menghilangkan kesempatan untuk mendapatkannya”

Gurunyapun kemudian menjawab, “Dan ya itulah perkawinan”

From: Unknown (lupa sumber aslinya)

Hadapi masalah

March 14, 2008

Ada seorang pemuda datang kepada seorang kakek tua
yang terkenal bijaksana. Pemuda tersebut datang dengan
wajah sangat kusut karena sedang menanggung banyak
masalah dalam kehidupannya. Kemudian pemuda tersebut
menceritakan semua masalah dan keluh kesahnya kepada
kakek tersebut. Kakek tersebut dengan sabar
mendengarkan cerita pemuda tersebut. Setelah selesai
pemuda tersebut bercerita, kakek tersebut mengambil
sebuah gelas yang berisi air dan memasukkan segenggam
garam ke dalamnya. Kemudian kakek tersebut meminta
agar si pemuda meminum air tersebut. Setelah si pemuda
minum air tersebut, si pemuda langsung memuntahkannya
kembali ke lantai sambil berkata “Asin sekali air ini
!”
Kemudian si kakek membawa si pemuda ke sebuah telaga
yang jernih airnya. Kembali si kakek memasukkan
segenggam garam ke dalamnya, dan kembali meminta si
pemuda untuk meminum airnya. Setelah si pemuda minum
air dari dalam telaga tersebut, pemuda tersebut pun
berkata “Segar sekali air ini !”
Si kakek lantas bertanya, “Apakah masih kaurasakan
garam dari air telaga ini ?” si pemuda pun menjawab
“Tidak”.
Si kakek lantas berkata “Lihatlah, garam yang
kutaburkan di telaga ini sama dengan jumlah garam yang
kutaburkan di gelas yang tadi kau minum, tidak lebih
dan tidak kurang, hanya wadah tempat menampung garam
tersebut saja yang berbeda, semakin luas wadah tempat
menampung garam tersebut, semakin tidak terasa garam
di dalamnya. Garam tersebut sama seperti masalahmu.”

“Satu hal yang perlu kita lakukan ketika kita
menghadapi masalah adalah meluaskan dan melapangkan
hati kita, sehingga kita tidak lagi merasakan masalah
kita sebagai suatu beban, melainkan suatu kelegaan
karena telah mendapatkan pelajaran yang sangat
berharga daripadanya…”

Kisah pohon apel dan anak kecil

March 14, 2008

Ada sebuah pohon apel yang lebat dan selalu berbuah
sepanjang waktu. Pohon itu setiap hari selalu
dikunjungi oleh seorang anak kecil. Ia senang sekali
bermain-main di bawahnya yang sejuk dan rindang,
kadang-2 memanjat ke dahan-dahannya, bergelayutan, dan
kalau lapar ia memetik dan memakan buahnya.
Pohon apel itupun merasa senang, karena ada yang mau
menemaninya setiap hari, sehingga tidak merasa
kesepian.

Tetapi dengan berlalunya sang waktu, anak kecil itu
sudah beranjak besar, sehingga jarang mengunjunginya
lagi.
Berkata pohon apel : “Hai nak kemarilah, dan
bermain-mainlah denganku lagi”
Jawab si anak: “Hai pohon apel yang baik, aku sudah
besar, sekarang aku perlu uang untuk membeli mainan
yang bagus-bagus”
Pohon : “Oh, kalau begitu petiklah buah-2ku nak,
ambillah dan juallah untuk mendapatkan uang”
Setelah itu anak itupun pergi.

Dalam waktu yang cukup lama, anak itupun lalu
mengunjunginya lagi.
Pohonpun berkata dgn sedih:”Hai nak datanglah, dan
bermain-mainlah denganku lagi…”
Anak:”Pohon yang baik, sekarang aku sudah dewasa dan
memerlukan rumah untuk tempat tinggal dan berteduh”
Pohon:”Oh..nak, kalau begitu potonglah dahan-dahanku
yang cukup besar ini, untuk membuat atap rumahmu”
Setelah memotong dahan-2nya anak itupun lalu pergi.

Setelah lama sekali, ia baru menjenguk pohon apel itu
kembali.
Pohon berkata: “Nak, lama tidak bertemu, maukah
engkau bersamaku, menemani aku untuk beberapa lama”
Anak:”Aku ingin menemanimu, tetapi saat ini aku akan
pergi jauh merantau, dan aku memerlukan rakit untuk
berlayar”
Pohon : “Oh nak.., kalau itu keinginanmu,tebanglah aku
agar engkau dapat mengambil kayunya untuk rakit”
Anak itupun lalu membuat rakit dan berlayar jauh ke
negeri seberang. Hampir seluruh sisa umurnya, ia
habiskan hidup di perantauan.

Lama di perantauan, ia ingat akan kampung halamannya,
ingat pohon apel tempat ia bermain-main waktu masih
kecil.
Akhirnya ia pergi menjenguk kampungnya dan mengunjungi
bekas pohon apel, yang sekarang sudah lapuk dan
tinggal akar-akarnya yang cukup besar.

Berkatalah pohon apel:”Oh nak… sungguh bahagia aku
bisa melihatmu kembali, tapi aku sudah tidak memiliki
apa-apa lagi sekarang, kecuali akar-2ku yang sudah
lapuk ini”
Anak:”Aku sudah cukup tua, aku capai.., sekarang aku
hanya memerlukan tempat untuk istirahat, setelah
perjalanan yang melelahkan ini”
Pohon:”Nak,… kemarilah,.. duduklah dan bersandarlah
pada akar-akarku ini, hanya ini yang bisa kulakukan
untukmu sekarang” berkata pohon apel itu sambil
menangis.

Anak itu lalu beristirahat, duduk bersandar pada
sisa-2 pohon apel tsb, sambil pandangannya menerawang
ke depan, entah apa yang dia pikirkan…

From: Unknown (lupa sumber aslinya)